Home DAERAH Mengadu ke DPRD Riau Soal Tanah Ulayat Diserobot, Tokoh Adat: Hanya Ingin Hak Kami Diakui

Mengadu ke DPRD Riau Soal Tanah Ulayat Diserobot, Tokoh Adat: Hanya Ingin Hak Kami Diakui

by admin admin

PEKANBARU – Tokoh adat Melayu, Datuk Win, angkat bicara terkait insiden sengketa lahan ulayat yang digarap oleh oknum pengusaha di Pekanbaru. Ia menegaskan bahwa masyarakat adat telah lama memegang hak atas lahan tersebut berdasarkan sejarah kepemilikan yang sudah berlangsung.

Menurut Datuk Win, tanah ulayat Bathin Tenayan yang saat ini dipersoalkan telah tercatat secara resmi dalam dokumen sejarah masyarakat adat. “Kami memegang lahan itu sesuai dalam sejarah kami pada 1890 yang telah kami suratkan pada 1962,” ujar Datuk Win, Kamis (23/10/2025) usai pertemuan dengan Anggota DPRD Riau.

Ia menyampaikan bahwa kelompok tani yang bekerja di atas lahan tersebut merupakan bagian dari masyarakat adat yang menjaga serta mengelola tanah warisan leluhur. Namun, saat kegiatan berlangsung, muncul sejumlah kelompok yang diduga datang dengan cara-cara yang meresahkan.

“Selaku kelompok tani yang bekerja itu mereka sedang kerja, Pak, langsung preman-preman itu datang di sana,” ungkap Datuk Win dalam keterangannya.

Kedatangan kelompok yang disebutnya “preman” itu memicu ketegangan di lokasi. Meski demikian, pihak masyarakat Melayu memilih untuk tidak melakukan perlawanan demi menghindari bentrokan yang lebih besar.

“Jadi kami selaku orang Melayu, kami tidak mau bentrok, biarlah kita mengalah untuk menang,” katanya.

Menurutnya, sikap mengalah yang diambil oleh masyarakat adat merupakan bentuk penghormatan terhadap nilai-nilai kemanusiaan dan perdamaian yang dijunjung tinggi dalam adat Melayu. Ia berharap semua pihak dapat menahan diri dan mencari jalan penyelesaian yang adil melalui jalur hukum dan musyawarah.

“Kami ini bukan ingin ribut, kami hanya ingin hak kami diakui sesuai sejarah dan bukti yang ada. Kalau bisa diselesaikan dengan baik, itu lebih baik,” tambahnya.

Namun, Datuk Win juga menegaskan bahwa kesabaran masyarakat adat memiliki batas. Jika tindakan provokatif terus berlanjut, pihaknya siap mengambil langkah tegas demi mempertahankan hak atas tanah mereka. “Tapi kalau sudah tak bisa tertahan lagi, apa boleh buat, Pak?” katanya dengan nada tegas.

Ia pun menyerukan kepada pemerintah daerah serta aparat penegak hukum untuk segera turun tangan menengahi persoalan tersebut. Datuk Win berharap kejadian serupa tidak kembali terulang dan konflik lahan ini dapat diselesaikan dengan damai tanpa harus menimbulkan korban di kemudian hari. ZIK

You may also like

Alternative Text